I want to live my life to the absolute fullest

To open my eyes to be all I can be

To travel roads not taken, to meet faces unknown

To feel the wind, to touch the stars

I promise to discover myself

To stand tall with greatness

To chase down and catch every dream

LIFE IS AN ADVENTURE

Tampilkan postingan dengan label Catatan Ciel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Ciel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 September 2015

Bintang

Aku ingin bertanya kepada langit
Mengapa ia ciptakan malam
Aku ingin bertanya kepada awan
Mengapa ia ciptakan hujan

Aku ingin bertanya kepada hening
Mengapa kau ciptakan sepi
Aku ingin bertanya kepada Mu
Mengapa kau ciptakan aku

Mengapa kau bersinar terang
Dalam kerlipan malamku
Mengapa kau berwarna warni
Dalam pelangi senduku
Mengapa kau menyanyi merdu
Dalam alunan sunyiku
Mengapa kau adalah kau

Bintang kecil yang berkelap kelip
Kau menghias gelapku yang tiada tara
Mengapa kau tersenyum jauh disana
Kau..
Yang ingin ku raih namun tak sampai..
Bintangku..
Takdirku padamu adalah jarak ratusan tahun cahaya..
Akan kusimpan rapat2 cinta..
Pada rindu yang tak terkira..



Ciel, 17 Juli 2015

Jumat, 14 November 2014

Sartre -- 'L'existence précède l'essencei'

Sartre mengatakan  bahwa eksistensi manusia mendahului dirinya. 'Eksistensi mendahului esensi'. 
Esensi adalah sesuatu yang menjadi isi dari sesuatu--hakikat, atau keberadaan, dari sesuatu.
Tapi menurut Sartre, manusia tidak mempunyai 'hakikat' bawaan semacam itu. 
Oleh karena itu, manusia harus menciptakannya sendiri.
Dia harus menciptakan hakikatnya atau 'esensi'nya sendiri, sebab itu tidak ditetapkan sebelumnya.

"Kita memang ditakdirkan untuk membuatnya sendiri. Kita seperti aktor-aktor yang diseret ke atas panggung  tanpa mengetahui peran kita, tanpa naskah dan tanpa juru bisik yang akan membisikkan kepada kita apa yang harus kita lakukan di atas panggung. Kita harus memutuskan sendiri bagaimana cara kita hidup."

Sartre mengatakan bahwa manusia merasa terasing dalam sebuah dunia tanpa makna. Perasaan terasing manusia di dunia menciptakan keputusasaan, kebosanan, kemuakan, dan absurditas.

Sartre menganggap kemerdekaan manusia sebagai suatu kutukan. 'Manusia dikutuk untuk bebas'.
Manusia dikutuk karena dia tidak menciptakan dirinya sendiri--dan bagaimanpun, bebas.
Sebab, begitu dilemparkan ke dunia, dia bertanggung jawab atas segala yang dilakukannya.
Dan kebebasan ini mengutuk kita untuk membuat pilihan-pilihan sepanjang hidup kita.
Kebebasan kita mewajibkan kita untuk memanfaatkan diri kita sendiri, untuk hidup dengan cara yang 'asli' atau 'jujur'.

Meskipun Sartre mengatakan tidak ada ada makna bawaan bagi kehidupan, Sartre percaya bahwa kehidupan pasti mempunyai arti.
Tapi kita sendirilah yang harus menciptakan arti ini dalam kehidupan kita. Eksis berarti menciptakan kehidupan kita sendiri.

Sartre berusaha membuktikan bahwa kesadaran sendiri bukan apa-apa hingga ia menangkap sesuatu. Dan 'sesuatu' itu diadakan sendiri oleh kita dan lingkungan kita.
"Kehidupan kita sendiri mempengaruhi cara kita memandang segala sesuatu di dalam ruangan. Jika sesuatu tidak menarik perhatianku, aku tidak melihatnya."

___________________Sumber : Jostein Gaarder, Dunia Sophie
Wikipedia:
Jean-Paul Sartre (lahir di Paris, Perancis, 21 Juni 1905 – meninggal di Paris,15 April 1980 pada umur 74 tahun) adalah seorang filsuf dan penulis Perancis. Ialah yang dianggap mengembangkan aliran eksistensialisme.

Minggu, 30 Maret 2014

Baru Satu Episode yang telah Selesai

Kemarin, 24 Maret, pertama kali kujalani tugasku sebagai dokter muda, setelah sebelumnya 7 Maret lalu diikrarkan janji DM.
Ma, anakmu telah menjadi dokter muda. Apa kau senang, Ma?
Kau yang dulu mengharapkanku jadi dokter. Dan kini masih kujalani apa yang kau ingini.
Entah sampai kapan.
Lihat, Ma, aku sayang Mama, kan?!
Hari ini, Ma, 25 Maret, hari Selasa. Aku akan melaksanakan wisuda, Ma, di kampus berdanau itu.
Anakmu akan jadi sarjana, Ma. Pake toga! Toga kedua yang kupakai setelah wisuda di SD dulu.
Untuk siapa aku disini, Ma? Untukmu Bunda yang kucintai.
Aku sarjana, Ma. Baru S-1: S.Ked. Dan di wisuda nanti, akan ada papa seorang yang hadir. Mbak dan Mas di rumah saja. Adik Alya masih berusia 26 hari  hari ini tepat jam 2.49 tadi. Belum sebulan tak boleh berpergian jauh, apalagi hanya untuk datang ke wisudaku.
Sebenarnya, hari ini sama saja dengan hari lainnya. Wisuda ini tak berarti apa-apa. Hanya menunjukkan aku lho sudah S-1. Toh saya juga masih belum bebas, harus menjalani profesi selama 2 tahun.
Barangkali karena mereka pikir diri ini kasihan sekali, Budhe turut campur dalam acara seremonial bernama wisuda ini. Keluarga beliau akan hadir. Bahkan turut serta mempersiapkan semuanya: baju kebaya, kerudung wisuda, sepatu yang akan kupakai, bahkan nyariin salon rias pada H-3. Sesuatu sekali. Keluarga yang satu itu memang "selalu pedul". Kurang beberapa jam lagi aku akan berias dan berangkat ke lokasi.
Ciel, 25 Maret; 02.58 WIB

Sudah 5 hari sejak acara wisuda berlalu. Rasanya sepi tanpa Mbak, Mas dan Adik. Tapi cukuplah keluarga Budhe meramaikan. Saya yang tak terbiasa berias diri sangat malu ketika datang di acara itu. Sangat malu karena make up yang berebih-lebihan. Seperti bukan diri yang biasanya. Tawaran foto studio kutolak semua karena tak percaya diri dengan penampilan sendiri. Ah, acara seremonial itu akhirnya terlewati juga. 
Ternyata aku tak dilupakan. Teman-teman KKN (yang kisahnya belum sempat kutulis dalam blog ini) datang padaku mengucapkan selamat kelulusan. Mereka membawakan karikatur diriku yang memakai baju dan topi toga. Indah sekali perbuatan mereka. Mereka adalah teman yang kutemukan dalam 23 hari masa KKN dan begitu keren mengisi pertemanan itu karenanya. Senang saja aku yang biasa sendirian ini dikunjungi teman-teman dunia nyata. Justru ketika sahabat-sahabatku kebanyakan ada di dunia maya atau di negeri yang jauh dari sini. Selain mereka teman-teman kos juga memberikan bunga, untuk pertama kali ku mendapat bunga. Terima kasih saja untuk kalian.
Sungguh tak ada yang istimewa dari hari itu. Setelahnya pun hanya diisi dengan makan bersama ayah dan mengantarkan ayah yang berpamitan pulang. Selesai sudah dan berasa lelah sekali.
Orang bilang wisuda hanya datang sekali dan merupakan acara yang tak bisa disia-siakan begitu saja. Namun bagiku acara ini bukan apa-apa. Gelar yang kudapatkan juga bukan sesuatu yang kuharapkan dan kuusahakan payah-payah. Dan semua belum selesai, masih ada 2 tahun lagi yang akan membikin siksa di hati kumat-kumatan.
Ciel, 29 Maret; 04.19 WIB

Dan pikiran ini masih sering menggugat hati, dan hati mencaci diri. Mengapa tak kuasa mengubah nasib sendiri menjadi yang dikehendaki. Impian untuk jadi orang bebas sementara terenggut disini. Aku akan dan sedang menjadi buruh kesehatan, tukang yang "mengobati" manusia. Semua telah ditentukan oleh Kebijakan dan Kementerian. Diikat begitu rupa. Tak berkutik dalam sistem.
Andai aku mampu membebaskan diri dari tatap orang-orang tentang profesi ini. Bukan! Bukan profesi ini buruk. Profesi ini sungguh mulia, begitu mulia bagi orang-orang yang rela berkorban, yang ingin mengabdikan dirinya, umurnya, kebebasannya, demi nusa dan bangsanya. Demi manusia sesamanya. Tapi sungguh aku bukan orang semacam itu. Aku menghendaki kebebasan. Tak terikat oleh sistem manapun. Aku hanya ingin memperjuangkan apa yang hati ini katakan. Sungguh kemuliaan itu tak ada dalam karakterku. Pertentangan ini mengusik naluriku untuk memberontak. Tapi seperti yang kukatakan, diri yang pengecut ini tak bisa merubah apapun. Yang ada hanya pikiran protes yang menggerogoti jiwa pemimpi ini. Menjadi realis seperti para dokter itu sama sekali tak pernah kubayangkan. 
Aku akan berubah tertempa sistem dan peraturan yang ada. Barangkali. Yang kutahu aku hanya berubah jadi pribadi pesimis dan putus asa selama 3,5 tahun preklinik yang ada. Semakin ku takut mempercayakan apa yang kupikirkan. Takut salah, takut dihujat. Jika bukan karena beberapa orang aku mungkin telah gila dan bertindak nekad. Orang-orang seperti aku hanya membutuhkan harapan akan hari esok yang berubah menjadi lebih indah dan nyaman. Bukan hari esok yang telah ditentukan oleh aturan dan kebijakan. Aku tak keberatan jika yang diberikan kini hanya harapan palsu. Apapun itu yang penting harapan.
Aku yang sejak kecil mengharapkan kedatangan Peter Pan yang membawaku ke Neverland barangkali akan berakhir menjadi impian belaka. Seseorang yang datang menyelamatkanku dari dunia yang bisa membuatku gila ini tak kunjung datang. Diri ini yang tak bisa menyelamatkan diri sendiri, apa si penyelamat itu akan mendatanginya? Aku masih dalam impian itu. Aku masih menunggu orang seperti Peter itu benar-benar akan datang. Jika semua ini akan berakhir menjadi impian belaka, biarlah, impian ini terlalu indah: Neverland itu.
Ciel, 29 Maret; 04.34

Sabtu, 08 Maret 2014

Lembaran Hitam

Orang takut mati karena takut dilupakan.
Hanya dengan kematian manusia terpisah dari kehidupan.
Lantas siapa yang mengenang? Apa yang terkenang?
Seseorang akan terhapus begitu saja, hilang dari sejarah.
Dan orang yang ditinggalkan memang sengaja ingin melupakan, termasuk  meninggalkan masa lalunya. Alih-alih menatap maju.
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." 
-- Pramoedya Ananta Toer
 Apalah arti manusia dengan hanya segelintir tahun masa hidupnya.
Lantas setelah pergi dia akan terlupa, tak terkenang, hilang, lantas lenyap bersama waktu.

Jumat, 07 Juni 2013

Pouvez-vous m'entendre?

Mungkin karena sejak kecil aku merasa tidak ada yang bisa mendengarku.
Aku selalu menyimpan semuanya sendiri disini.
Setiap pulang sekolah ku bersepeda dan berhenti di atas jembatan dan menatap sungai yang mengalir.
Kutatap kertas di tanganku yang berisi keinginanku, kata-kata yang ingin didengar.
Kulemparkan jauh ke sungai membiarkannya mengalir dan berharap apapun itu yang kusebut 'penguasa sungai' bisa mendengarnya,
dan meskipun tidak ada yang mendengarnya setidaknya aku merasa lega telah menuliskannya.
Aku tak pernah benar-benar berharap kata-kata itu akan tersampaikan karena aku sudah terbiasa diabaikan.
Pada akhirnya aku hanya mengatakan apa yang membuat mereka senang.
Aku mulai mengabaikan perasaanku sendiri, membunuhnya perlahan
sehingga aku mulai kehilangan apa itu 'emosi'.
Aku berubah menjadi orang yang berusaha terlihat kuat, mencoba menyimpan air mata sendirian.
Aku menciptakan duniaku sendiri yang mereka tak tahu.
Pada akhirnya aku menemukan diriku yang berlari dari kenyataan.
Menjadikan duniaku terselubungi oleh warna yang tampak lebih cerah.
Selamanya mereka mungkin tak mampu melihatnya, kegelapan dalam hatiku.
Aku takut dalam kesendirian dan tak ada yang tahu.
Aku berlari, aku tertatih, aku menjerit dalam diam.
Aku terluka parah sedemikian rupa,
namun sekali lagi tak ada yang tahu.
Tak ada yang bisa mendengar rintihan di langit duniaku.
Tanpa kusadari aku telah tenggelam dalam kolam air mata.
Aku selalu percaya akan ada seseorang yang akan menyalakan cahayanya untuk menerangi gelapnya hatiku.
'Karena ini adalah tentang kecocokan jiwa'.
Can you find me? Dear, my best friend.

Kamis, 25 April 2013

Elegi Langit dan Bumi


Elegi Langit dan Bumi (Berdamai dengan apa yang tak bisa kau raih)

Kali ini izinkan aku berbicara kepada langit.

Dear, langit..
Sosok yang selalu kokoh, sosok yang selalu mendengar.
Disini Ciel berbicara.
Jika di tangan kananku ada hal yang tak kau sukai namun banyak orang menyukainya sedang di tangan kiriku ada hal yang kau cari namun dengan memilihnya akan membuat beberapa orang terluka, mana yang akan kau pilih?
Aku tahu kau akan memilih apa yang ada di tangan kananku.
Karena kau adalah langit..
Sosok yang memberi, sosok yang mencintai.

Namun aku adalah Ciel. Aku tak pernah berpikir bisa menyamaimu.
Tentu aku ingin memilih apa yang ada di tangan kiri, karena aku adalah manusia.
Tapi langit, kau membuatku memilih apa yang kau pilihkan untukku.
Sadarkah kau telah melukaiku?
Aku merasa linglung tak berdaya.
Kukira kau telah merampas harapanku, impianku, segalanya.
Namun seseorang berkata, “Racun itu hanya sesaat yang akan bermetarmofosa menjadi obat”
“Sedikit lagi”, katanya. “Bersabarlah sedikit lagi”.
Tapi kau langit tak pernah mengajariku cara bersabar, sehingga aku berpaling darimu dan bersua dengan bumi.
Padahal aku terbiasa melihatmu, aku si penggemarmu nomor satu yang merasa dicampakkan.
Karena kau adalah langit..
Sosok yang angkuh, sosok yang tak terkalahkan.

Dan kutahu bumi begitu mencintaimu meski ia tak mungkin mendapatkanmu.
Karena bumi mewariskan sifat pada manusia, meski ia kuat sebenarnya dia rapuh.
Karena ia adalah bumi..
Sosok yang mudah terluka, sosok yang tegar.
Kepadanya aku mengenal jatuh.
Jurang yang begitu dalam yang menjauhkanku darimu, langit.
Beban yang ia tanggung begitu berat. Manusia yang selalu menimpakan luka kepadanya.
Kepada bumi aku belajar menunduk.
Dalam ruang yang ada ia terbiasa kehilangan.
Pada bumi aku belajar berdamai dengan perasaan.

Dear langit,
Sosok yang ramah, sosok yang murah senyum.
Meski kau tak pernah menyentuhnya, kau selalu berusaha menolongnya.
Kau kirimkan rintikmu, kau kirimkan cahayamu, kau kirimkan sejuk anginmu.
Karena bumi mewakili hati manusia yang ingin dicintai.
Kau berikan ia harapan untuk terbang melalui burung-burung yang hinggap di dahannya.
Menengadah menuju harapan cahaya yang kau tebarkan.
Menepis luka dengan sejuk angin yang kau hembuskan.

Dear langit,
Aku berkata kami adalah kami, dan kamu adalah kamu.
Aku adalah diriku. Dan kau adalah dirimu.
Setiap yang kita pilih memiliki resiko masing-masing.
Setiap kehebatan memiliki tanggung jawab sebatas levelnya.
Kami tak pernah menjadi dirimu.
Namun kami mampu menyamaimu dalam kadar kami.
Dengan ketegaran, ketabahan, dan kedamaian yang bersemayam di hati kami.
Meski bumi mencintai langit, ia cukupkan apa yang ada dalam dirinya.
Bersyukur atas apa yang ada, itu yang bumi ajarkan padaku.

Mewakili bumi, aku berkata bahwa meski tak dapat mencapaimu, aku telah mewarisi harapan yang kau beri.
Aku akan terus menjulang diantara pepohonan ketabahan.
Aku akan terbang tinggi bersama sayap-sayap impian.
Karena cinta bumi kepada langit hanya cukup sampai disini.
Cukup dengan memberikan yang terbaik.
Karena cinta tak harus memiliki.
Ciel,  25 April 2013

Kamis, 14 Februari 2013

Sakura dan Syaoran

Cinta adalah persahabatan. Ah ya, akhirnya ada yang menulis kalimat itu. Itulah yang selama ini saya kagumi dan saya sanjung dalam diorama cinta. Untuk itu Ciel akan membicarakan tentang dua sosok yang sangat Ciel sukai di anime. Sakura dan Syaoran.
Membicarakan mereka tentu tak akan terlepas dari 2 anime ciptaan CLAMP: Card Captor Sakura (CCS) dan Tsubasa Reservoir Chronicle (TRC). Bagi Ciel kecil ataupun Ciel yang sekarang kisah antara dua karakter itu begitu luar biasa.
Berawal dari masa kecil Ciel yang ketika itu kelas 3 SD dan melihat Kinomoto Sakura dan Li Syaoran beraksi di layar kaca bagi Ciel kecil sungguh memukau. Yah, ketika itu CCS masih tayang di TPI (sekarang MNC TV) dengan soundtrack berbahasa Indonesia dan berdubbing Indonesia. Memang sejak kecil, Ciel sangat tertarik dengan tema fantasi jadi tak ayal Ciel kecil suka sekali menonton aksi Sakura mengumpulkan Clow Card bersaing dengan saingannya yang jauh-jauh datang dari Hongkong, Li Syaoran. Anime ini sungguh menarik dan sangat sangat bagus (salah satu jajaran anime pertama yang Ciel labeli "keren" selain Detective Conan waktu itu) berdasarkan tayangan anime di usia Ciel waktu itu. Bisa disebut anime cewek namun ternyata banyak teman cowok Ciel yang juga suka. Termasuk kenangan ketika Ciel mendengar dentingan piano instrumental Platinum, opening CCS yang dimainkan teman saya di kelas di awal masuk perkuliahan. Itu menunjukkan anime ini tidak sekedar "anime cewek" atau shoujo (padahal bukan shoujo juga), karena bagi Ciel kalau ada cowok yang suka berarti ada poin lain di dalam anime ini.
Sungguh menarik melihat bagaimana karakter dan plot yang diusung CLAMP dalam mengemas CCS. Termasuk betapa hangatnya persahabatan antara Sakura dan Tomoyo, persaingan antara Sakura dan Syaoran dan juga "tunangannya", Mei Lin. Pertengkaran klasik antara kakak beradik Kinomoto, Sakura dan Touya. Karakter Touya, kakak Sakura yang diam-diam seakan tahu segalanya, lalu hubungan Touya dan Yukito, juga karakter fantasi seperti Kero, Yue, dan Clow sendiri. Belum lagi pada season selanjutnya banyak karakter-karakter misterius bermunculan seperti sosok Eriol yang konon disebut-sebut sebagai reinkarnasi dari Clow Reed, pencipta Clow Card. CCS memang bukan anime pertama bergenre fantasi yang Ciel tonton, namun bagi Ciel ini adalah anime magic pertama yang sangat bagus yang pernah Ciel lihat selama ini.
Mengingat usia Ciel saat itu, sekilas CCS tampak seperti halnya anime 'anak-anak' lain yang disuguhkan waktu itu, seperti Sailor Moon, Wedding Peach, atau Do re mi. Namun ada hal lain yang membuat Ciel menyukai anime ini dibandingkan lainnya. Ini seperti yang Ciel utarakan sebelumnya dengan analogi kenapa Ciel lebih menyukai cerita Peter Pan dibanding Cinderella, Snow White, Little Mermaid, ataupun Sleeping Beauty (liat artikel berjudul Finding Neverland). Yah, karena sama seperti itu, Wedding Peach dan Sailor Moon benar-benar bergenre remaja yang seakan memberitahukan kepada kita bahwa cinta itu sesuatu tentang bunga mawar, tentang cincin, tentang gaun pengantin dan la la la yang lain. Namun CLAMP dalam karyanya mengajarkan arti hubungan yang lebih dalam, lebih bermakna, dan lebih rumit sekaligus sederhana di balik semua itu. Sungguh mengajarkan Ciel arti seseorang. Ah, entahlah, Ciel tak bisa menggambarkannya. Mungkin sedikit cerita di scene anime bisa menjelaskannya.
Pertama kita bahas CCS saja dulu ya? ^_^
Kisahnya awalnya standard, pembaca mungkin bisa searching di google atau wikipedia. Ciel ingin langsung melompat ke bagian yang lebih ke arah perasaan. Gambaran singkatnya di anime ini banyak hubungan yang aneh, kita sebut saja dengan naksir. Misalnya Sakura dan Syaoran sama-sama menyukai (baca: naksir) Yukito. Dan juga hubungan dekat "persahabatan yang mencurigakan" antara Yukito dan Touya. Nah diluar semua itu Ciel akan mengajak membahas Sakura dan Syaoran saja. Sepakat ya?! :)
Cerita dimulai ketika Syaoran mulai merasa bingung dengan perasaannya tentang siapa yang sebenarnya ia sukai. Dia menyukai Yukito, namun ada rasa yang aneh tentang dirinya terhadap Sakura. Disini dengan mudah Syaoran menyadari bahwa yang dia sukai sebenarnya adalah Sakura. Kisah menjadi menarik ketika melihat adegan betapa canggungnya Syaoran setiap bertemu Sakura. Dan sangat lucu ketika melihat usaha Syaoran mengungkapkan perasaannya kepada Sakura. (Komentar saya: bagi Ciel kecil menonton adegan ini begitu menarik. Ciel jadi tahu bahwa mengungkapkan perasaan itu merupakan hal yang sangat tidak mudah). Yah, di titik ini CCS agaknya lebih pantas kita sebut anime remaja ya? :)
Pada akhirnya Syaoran pun berhasil mengatakan perasaannya kepada Sakura (tapi ini sudah lamaaaa setelah berkali-kali usaha Syaoran menyatakan perasaannya, dan udah mau mencapai ending anime). Itu membuat hubungan antara dua tokoh ini tak lagi 'sama'. Yang ada justru suasana dingin dan canggung. Tak lagi hangat seperti sebelum Sakura mengetahui perasaan Syaoran yang sebenarnya. Dan tibalah di penghujung anime ketika cerita justru menanyakan bagaimana perasaan sebenarnya Sakura. Sebenarnya Sakura pun bingung. Namun akhirnya dia membandingkan perasaannya ketika temannya Eriol pergi ke London dan perasaannya ketika tahu Syaoran akan kembali ke Hongkong. Sakura menyadari bahwa dia sedih ketika Eriol pergi, namun berbeda ketika dia tahu Syaoran yang akan pergi, kali ini dia bukan hanya sedih, namun Sakura juga merasa kehilangan. Disinilah akhirnya Sakura tahu bahwa sebenarnya orang yang dia sukai adalah Syaoran. Ending CCS memang sedikit berbeda antara anime dan manga. Di anime endingnya bersetting di bandara ketika Sakura mengejar Syaoran dan menyatakan perasaannya. (Ini mirip dengan ending A2DC, bener deh ^^v *salam peace dari saya*). Tapi jujur Ciel lebih suka ending manganya. Dan Ciel membaca ending manga beberapa tahun setelah animenya usai tayang di TV (udah pindah channel di RCTI). Di manga Sakura mengejar Syaoran diantar sama Touya, tapi settingnya nggak di bandara tapi waktu Syaoran naik bis (mau ke bandara mungkin). Kenapa lebih suka yang ini? Pertama, karena Touya yang notabene 'benci' sama Syaoran nganterin Sakura, menandakan bahwa Touya sudah 'merestui' hubungan adiknya dengan Syaoran. Kedua, ternyata di manga endingnya nggak sampai segini aja. Beberapa tahun kemudian Syaoran kembali ke Jepang dan bertemu Sakura yang sudah tumbuh menjadi remaja. Ah, disini kita bisa tahu seperti apa rasanya melihat 'pasangan serasi' itu. Speechless. Kakkoiii lagi-lagi buat CLAMP.
yukito, touya, syaoran, sakura, dan tomoyo

Sakura dengan kostumnya, si Penangkap Kartu
chara di CCS, full group
Li Syaoran dan Kinomoto Sakura

Nah, ternyata tidak berhenti di anime anak-anak. Namun CLAMP menyuguhkan sekuel CCS, dengan cerita yang jauh berbeda: Tsubasa Reservoir Chronicle. Bila di CCS Syaoran menjadi sosok tuan muda yang datang dari Hongkong dan Sakura menjadi gadis Jepang yang periang, cerita di TRC lebih kelam namun lebih dalam. Settingnya benar-benar berbeda, ceritanya  benar-benar berbeda, namun masih dengan karakter dan chemistry yang sama. Jika CCS lebih menceritakan 'kehidupan normal' manusia, TRC lebih banyak fantasinya. Ini tentang perjalanan melintasi ruang dan waktu dengan tokoh utama tetap Sakura hime (Puteri Sakura)--yang kali ini menjadi seorang puteri dari kerajaan Clow, suatu negeri di padang pasir-- dan Syaoran, seorang arkeolog pendatang yang datang bersama ayahnya ke negeri Clow untuk meneliti reruntuhan yang penuh dengan misteri. Bisa dikatakan dua tokoh tersebut tumbuh seiring Ciel tumbuh. Di CCS sebagai anak-anak dan di TRC sebagai remaja.
TRC menceritakan tentang Sakura hime dan Syaoran yang merupakan sahabat sejak kecil. Dengan latar belakang yang berbeda dan sifat yang berbeda mereka tumbuh bersama dalam hubungan yang begitu dalam namun tetap berjarak (karena perbedaan status), namun jarak itu seakan tidak ada karena Sang Puteri selalu menampilkan perasaan tulusnya kepada Syaoran. Mereka saling memahami bahwa ikatan diantara mereka begitu berharga satu sama lain. Namun CLAMP menggambarkannya dalam fragmen-fragmen scene dialog ataupun peristiwa sehingga pembaca bebas menginterpretasikan sendiri sedalam apa hubungan mereka. Sejujurnya Ciel kehabisan kata dalam menggambarkan bagaimana ikatan mereka. Sederhana. Namun sekaligus rumit. Disini Ciel memahami tentang arti seseorang, arti sebuah ikatan, dan arti perasaan yang melibatkan hati. Ah, mungkin disinilah pertama kali Ciel menemukan makna tentang cinta platonik yang selalu Ciel bicarakan. Bahwa cinta adalah persahabatan. Dan persahabatan adalah cinta. Karena bagi seluruh dunia mungkin kau hanya seseorang, namun bagi seseorang kau mungkin adalah seluruh dunia. Untuk lebih jelasnya sebaiknya kalian menonton anime atau membaca manganya (versi anime dan manganya sedikit berbeda). RECOMMENDED for you all, minna san ^_^
Yah sekian dulu dari saya. Padahal Ciel belum cerita semua yang Ciel pikirkan tentang TRC. Sayang sekali, Ciel sedang berkejaran dengan waktu sehingga tidak bisa menulis banyak-banyak. Yang jelas bagi Ciel, dua karakter ini mendapat ruang sendiri di dunia Ciel. Mata ashita! ^_<
Syaoran dan Sakura di TRC, finding feather
dua orang yang ditakdirkan bersama
Syaoran dan Sakura-hime
Persahabatan yang dirajut sejak kecil
Cinta Platonik

Sabtu, 09 Februari 2013

Menikah Dulu Rumah Tangga Kemudian

Tulisan ini berdasarkan curhatan seorang teman.

Apa ada yang salah jika menikah dulu, terus berumah tangga nya nanti-nanti? Hm.. sebenarnya tergantung pemahaman dan kesediaan seseorang yang mengalami hal ini. Namun hal semacam ini sebenarnya menjadi "kebiasaan" bangsa Arab dulu. Sebagaimana kisah Rasulullah dan Aisyah yang dinikahinya di usia--salah satu riwayat menyebutkan--sembilan tahun. Ini menjadi hujjah diperbolehkannya "nikah muda". Namun, bukan berarti lantas menjadi "pedofil" seperti yang dihujat kaum antimuhammad. Rasulullah tidak pernah berkumpul dengan Aisyah hingga dia mencapai akil baligh. Dan ini adalah hal yang 'biasa' pada waktu itu di tanah Arab. Hal yang sama juga berlaku pada Sayyidina Umar bin Khattab yang menikah dengan Ummi Kultsum binti Ali bin Abi Thalib yang--salah satu riwayat menyebutkan--berumur masih 12 tahun. Beliau pun memutuskan menikah dahulu, namun rumah tangganya nanti-nanti.
Ini bukan tentang nikah dini, juga bukan tentang menunda kebersamaan, namun lebih ke arah mempersiapkan diri dalam berumah tangga.
Kasus yang sama saya dapatkan ketika ada wacana "Menikah tapi LDR". Kasusnya bisa dilihat hampir sama dalam sudut pandang, "sama-sama tidak berkumpul". Apalagi dalam kasus menikah dalam usia yang masih muda, masih ada urusan (mungkin masih studi), dan masih belum siap berumah tangga. Bukankah 'menikah tapi LDR' ini menjadi salah satu kesempatan untuk mempersiapkan diri belajar bagaimana menjadi seorang pengelola rumah tangga yang baik ketika berada jauh dari dia. Dan ketika sang lelaki bekerja sedang sang isteri belajar berbenah bagaimana berumah tangga yang baik, ini mengingatkan saya tentang makna pacaran dalam arti yang sebenarnya.
Teringat suatu talkshow yang diisi Ustadz SAF yang berjudul "Tuhan, Ijinkan Aku Pacaran". Disana dibahas tentang arti terminologi tentang pacaran. Bahwa pacaran berasal dari kata pacar. Pacar sendiri merupakan nama dari sejenis tanaman hias yang cepat layu dan mudah tumbuh lagi jika ditanam. Tanaman pacar ini biasa digunakan untuk mewarnai kuku supaya tampak indah. Alkisah di daerah Sumatera sana jika seorang laki menyukai (menaksir) seorang wanita maka ia akan bersenandung (bersyair, sebagai kebiasaan orang Melayu) di depan rumah sang wanita. Dan jika pada akhirnya sang wanita juga suka maka lamaran pun akan segera dilangsungkan. Lalu sang wanita akan dipacari (kukunya diwarnai), dan selama itu sang wanita dipingit, dilarang bertemu dengan sang lelaki. Warna di kuku itu menjadi waktu mempersiapkan diri bagi sang wanita untuk belajar bagaimana berumah tangga. Selama warna itu belum memudar, sang wanita akan belajar bagaimana cara memasak, bersih-bersih, mendapatkan berbagai wejangan sebagai bekal dalam mengarungi bahtera rumah tangga oleh para sesepuh. Dan setelah itu barulah pernikahan dilangsungkan. Jadi kalau memang berniat pacaran seperti ini saya kira boleh-boleh saja. Karena pacaran yang seperti ini benar-benar paham akan konsekuensi setelahnya, pacaran yang tidak berdua-duaan, tetapi justru suatu bentuk lamaran yang disampaikan langsung kepada keluarga sang calon mempelai. Duh, indahnya yang namanya pacaran (ta'aruf), sayang kata ini disalahartikan.
Ah, kembali ke menikah tapi LDR. Yah, bagi yang benar-benar sudah kepingin, silahkan saja. Tapi ingat jika memang belum siap jangan dipaksakan, ukhti sayang. Memang menikah adalah salah satu bentuk penjagaan diri, selain menunaikan sunnah Nabi. Tapi rela gak sih jauh-jauh sama si dia? Hahaha, meski memang sebenarnya belum siap berumah tangga. Hehe.
Yah, ini sedikit curcolan saya. Yang penting teruslah berbenah. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita semua. Mata ashita, minna san. Semoga tulisan yang curcol abiz ini bisa memberi sedikit manfaat. ^_^

Jumat, 08 Februari 2013

Lelaki yang baik untuk wanita yang baik

Lelaki baik-baik hanya untuk wanita baik-baik. Sungguh tamak jika kami menginginkan pasangan yang sempurna, namun lupa mengaca pada diri sendiri tentang diri ini. Pantaskah dia bersanding denganmu?
Ini bukan tentang nama namun tentang sosok. Memang bukan sempurna kata yang pantas, namun yang ideal.  Bukan ideal secara umum, namun lebih ke arah cocok.
Ini bukan tentang pasangan, namun tentang teman hidup. Bukan tentang cinta, namun tentang tujuan. Tentang visi misi. Tentang kehidupan.
Bukan tentang suami, namun tentang imam. Pun juga tentang ayah bagi makhluk yang akan kausebut sebagai anak-anakmu.
Apatah penting? Tentu. Tidak akan rela wanita yang berpikir benar, menjadikan ayah yang tidak baik-baik bagi anaknya. Pun sebaliknya, jika lelaki itu benar berpikirnya tidak akan rela menjadikan ibu yang tidak baik-baik bagi penerusnya kelak.
Yah, begitu pula halnya dengan saya. Saya sungguh takut saya akan semakin khilaf. Bagaimanapun perbaikan adalah kunci utama menjemput masa itu. Saya tidak menginginkan yang sempurna, namun yang bisa menjadi imam bagi keluarga, yang menjadi pemimpin bagi kami, yang menjadi ayah yang baik bagi anak-anak kami, yang mencintai Nya diatas segalanya dan yang membuat kami pula semakin cinta pada Nya. Ini bukan tentang pasangan--sekali lagi--namun tentang keluarga kecil yang bercita-cita menciptakan peradaban besar. Yah! Tanggung jawab untuk melahirkan generasi-generasi terbaik itulah yang menuntut kami dalam perbaikan. Saya pun tak ingin jika ayah anak-anak saya nanti bukan orang yang baik-baik. Jadi sudah sepantasnya bagi kami untuk memilah dan memilih. Bukan sekadar pasrah pada pilihan. Meski bukan pula mencari bahkan menunggu.
Tapi apakah dia akan datang disaat diri ini tidak pantas  bersanding dengannya? Tentu tidak. Bukankah lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik? Bagaimana mungkin saya mendapatkannya jika masih di titik ini. Padahal saya ingin menjadi ibu--lebih dari menjadi isteri-- yang baik. Yang hebat, bukan dari saya, namun lebih karena menghebatkan generasi setelah kami. Bukankah menjadi wanita itu sungguh istimewa. Ia bukanlah lemah namun lembut. Ia bukanlah cengeng namun tegar. Ia bukanlah diam namun memikirkan banyak hal. Tanggung jawab moril tertinggi bagi seorang ibu adalah mendidik anak-anaknya. Bukankah kami para wanita yang kelak akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kami? Apa kami telah mampu? Dan kami pun ingin seorang ayah yang mampu menjadi panutan bagi anak-anak. Apakah ayah yang baik akan hadir disaat kami para kaum hawa tidak berbenah? Sekali lagi--lelaki yang baik untuk wanita yang baik. Sudah berapa banyak hafalanmu sayang? Sudah berapa buku hadits yang kau baca? Apakah Kitabullah itu hanya kau tonton atau kau tadaburi? Sudah selesaikah membaca shirah Islam? Sudah punyakah bekal untuk menjadi sosok yang menghebatkan jika kau tak mampu menghebatkan dirimu sendiri, hah? Dan ayah yang hebat itu tidak akan datang jika ibu yang hebat itu tidak ada. Yah, sekian. Selamat memperbaiki diri. Semoga bisa menjadi ibu yang baik. Aamiin~ \>0</

Kamis, 07 Februari 2013

Love Talk


Dulu saya sempat merasa iri dengan teman-teman yang telah merasakan pengalaman cinta. Jatuh cinta, mengungkapkan cinta, atau menjadi sasaran atas pengungkapan cinta. Dulu sangat penasaran memang gimana sih rasanya. Ya itu dulu. Sebelum saya berkenalan dengan dunia yang lebih bijaksana.
Hingga saya mencapai kesepakatan dengan hati bahwa tidak ada cinta yang benar-benar cinta jika diungkapkan sebelum menikah. Dan saya sangat bersyukur tidak pernah memiliki pengalaman cinta sebelumnya. Masa-masa SMA sangat membentuk karakter Ciel yang semacam itu. Meski sempat tidak suka masuk SMA itu tapi pada akhirnya Ciel menyadari bahwa banyak pelajaran lain yang Ciel dapatkan yang mungkin tidak Ciel dapatkan di sekolah lain, class of Universe.
Ketika SMA mempelajari bahwa kelak kita akan menjadi seorang ibu, kelak kita akan menjadi seorang isteri membuat kita memiliki pemahaman bahwa hidup kita sekarang adalah persiapan menuju titik itu. Yah, bukannya mencari cinta melalang buana dan mengaplikasikannya dengan pacaran atau berpuisi cinta, galau tentang cinta. Hm... amit-amit.
Ketika SMA juga Ciel telah mengenal cinta yang jauh lebih hakiki. Cinta karena Allah. Cinta pada seseorang yang berjalan bersamamu, melangkah selaras dengan langkahmu, yang hatinya telah tertaut denganmu. Sehingga ketika suatu hari ada seseorang yang bertanya dalam kuesioner tentang “Apakah Anda telah merasakan manisnya iman?”. Saya tak ragu lagi untuk menjawabnya iya. Karena cinta yang didasarkan pada keimanan adalah hierarki tertinggi dalam ikatan ukhuwah Islamiyah.
Saya masih ingat bagaimana mendapatkan 7 juta dalam waktu kurang dari 2 hari untuk membantu salah satu teman saya masuk ke salah satu universitas di Jogja dikarenakan dia tidak memiliki biaya untuk itu. Sebenarnya 11 juta, tapi  4 juta sudah terkumpul dalam 2 minggu  dan masih kurang 7 juta. Saya ingat betapa jarkom itu sampai ke tangan kami dan kami berpencar ke seluruh penjuru Jombang hanya untuk menggalang dana bagi teman kami. Ke siapapun. Dan sungguh keren pada akhirnya uang yang kami kumpulkan dalam waktu kurang dari 48 jam malah lebih 300ribuan. Dan saya ingat hari itu juga mengantar teman saya ke stasiun, melihat teman saya berangkat ke Jogja membawa uang yang kami kumpulkan dengan penuh haru dan bahagia.
Itu salah satu bentuk cinta.
Seseorang bilang cinta sejati adalah melepaskan kan? Dan sepertinya saya sungguh memahaminya. Ini tentang seseorang dan saya. Entah sejak kapan saya mencintainya. Dan entah sejak kapan dia mencintai saya. Namun saya tidak ragu jika hati kami telah tertaut. Rasulullah mengatakan jika kau mencintai seseorang maka ungkapkan. Itulah pertama kalinya saya mengungkapkan rasa cinta saya kepada seorang sahabat. Dan saya begitu senang ketika dia menjawab dengan hal yang senada. Kita bersahabat dalam naungan Nya. Hingga waktu memisahkan kita dan jarak menempatkan kita di tempat masing-masing. Saat itulah kesejatian cinta kita diuji. Cinta sejati sungguh benar-benar melepaskan. Jarang sekali kita berkomunikasi. Karena cinta tidak harus membuat kami bersama. Karena cinta begitu bebas dan membebaskan. Bahagia mendengar kabarnya yang lama tak bersua adalah bentuk manis dari cinta. Bahagia mendengarnya bahagia. Kami berusaha di tempat masing-masing. Tentang komunikasi, sebenarnya tak begitu perlu mengungkapkan sayang dengan sms atau telepon setiap saat. Justru saya dan dia jarang sekali melakukan itu. Kita benar-benar berusaha hidup di tempat masing-masing dengan baik. Karena yang menghubungkan kami hanya doa rabithah yang kami panjatkan kepadaNya agar tetap menautkan hati kami. Selalu berdoa untuknya untuk yang terbaik baginya. Tak perlu cemburu ketika dia memiliki teman lain yang begitu baik kepadanya. Tak perlu pamrih. Tak perlu mengharap balasan. Karena cinta sejati adalah cinta yang memberi. Cinta sejati bukanlah cinta possessive, saya semakin setuju jika cinta sejati adalah melepaskan. Menyerahkan segalanya, berpasrah segalanya, berharap pada kepercayaan dan harapan.
Usiaku hampir 21. Dan Ciel masih tetap pada garis awal, ingin jatuh cinta hanya sekali pada orang yang tepat, pada waktu yang tepat. Godaan tentu banyak. Asal akal dan hati masih berkomunikasi dengan baik inshaALLAH godaan bisa segera pergi. Terkalahkan oleh kesadaran pada prinsip awal.
Menjaga hati cukup susah bagi orang yang memainkan perasaan dalam berteman. Salah satu yang membuatnya bertahan adalah peran akal untuk mengingatkan. Seseorang pernah bertanya apa kita harus menunggu cinta baru menikah? Bolehlah jika dijawab iya, tapi tidak juga bisa. Ah, saya tidak terlalu memahami tentang jatuh cinta atau apalah itu.
Saya telah menyadari betapa pentingnya persiapan menuju ke arah sana sejak SMA. Sejak berkenalan dengan orang-orang yang selalu mengingatkan itu. Saya hanya berharap jika hati ini masih perawan hingga saat itu tiba. Bukankah Rasulullah pernah bersabda jika tidak dianggap sirik maka saya akan menyuruh para isteri untuk bersujud kepada suaminya. Bagaimana mungkin kami para isteri tidak mencintai suami kita kelak jika kita disuruh memperlakukan suami begitu agung semacam itu. Hei, saya sudah menjawab pertanyaan seseorang bahwa cinta tak perlu hadir sebelum menikah. Dia akan hadir bersama komitmen, bersama visi, bersama dunia yang saling menyelaraskan. Di saat itu mereka akan menempatkan kertas kosong masa depan dan menggambarnya bersama-sama.
Kapan-kapan ngomongin ini lagi deh. Ini tidak mencakup semua yang saya pikirkan. Sekian.

Jumat, 28 Desember 2012

Wavelenght

Hari ini ada ang ingin Ciel ceritakan..

Hm.. apalagi ini -____-

Kali ini tentang hubungan. 

Hari ini Ciel berpikir bahwa Ciel payah sekali. Ciel yang poker face tidak tahu bagaimana menghibur seseorang. Itu membuat Ciel merasa menjadi manusia paling tidak berguna sedunia. Ingin aku bertanya kepada para lelaki, "Apa yang akan kalian lakukan jika melihat wanita yang menangis di hadapan kalian?" Karena aku tak tahu jawabannya.

Ciel, sejak kecil mendidik diri untuk kuat. Tidak mudah menangis dan cengeng untuk hal remeh temeh. Baru jika menyangkut perasaan mungkin, saya merelakan air mata saya keluar. Dan ada fenomena lain, ketika wanita-wanita lain lebih sensitif terhadap hal-hal yang lain. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan ketika mereka menangis. Yah, hanya memeluk, menggenggam tangannya erat, dan bilang "sudah-sudah". Lantas kau akan bingung ketika dia tetap menangis. Dan yang bisa kau lakukan hanya diam.

Menjadi sosok yang introvert. Yang memagari diri dengan tirai bambu. Yang sulit mengungkapkan perasaannya sendiri. Menghadapi wanita pada umumnya. Membuatku merasa: Aku sungguh payah. Aku berharap bisa banyak berbicara, mengeluarkan lelucon yang mampu membuatnya tertawa. Namun ternyata lidah ini tetap kelu. Tak ada satu katapun yang keluar.

Dan saya takut ini akan terbawa sampai nanti. Sampai ada orang lain di hidupku. Sejujurnya saya memikirkannya. Bagaimana membuat orang yang kau sayangi tersenyum. Terutama di kala mereka sedang bersedih. Dan tak ada kata yang bisa kau ucapkan. Akankah seseorang itu akan tenang hanya dengan sikap yang kutunjukkan. Kata yang mungkin sangat minim sekali. Wavelenght. Aku jadi berpikir kurasa saya hanya bisa hidup jika "the same wavelength" itu terpenuhi. Semoga aku bisa menjadi sosok yang bisa menjadi penenangnya, penghiburnya, dan mampu membuatnya selalu tersenyum dan bersemangat menjalani hari-harinya. The last question: Siapakah "-nya" itu?

Sepotong Hati

Hm.. Memang tahun ini bertema cinta..
Habibie dan Ainun. Dan cinta yang dibahas kali ini adalah seputar dua sejoli yang kurasa kita semua telah mengenalnya..

Well, ceritanya 2 hari yang lalu Ciel habis nonton nih film di bioskop. Okey, sukses bikin nangis. Hahay.
Film ini, saya yakin banyak yang menilai istimewa. Tapi ada beberapa point yang membuat saya terusik.

Jarang sekali Ciel bisa nangis ketika nonton suatu film. Namun kali ini Ciel pun akhirnya menyerah dan memilih meneteskan air mata di menit-menit awal. Scene yang membuat saya menangis adalah ketika Ainun mengutarakan alasannya menjadi dokter kepada Rudi. Huwaaaa.. sumpaaah saya sedih sekali. Begitu banyak alasan seseorang untuk membuatnya berkeinginan menjadi dokter. Tapi saya? Saya merasa belum terpanggil. Itu membuat saya begitu sedih melihat adegan itu. TT^TT

Sebenarnya scene itu yang paling mengena (dalam hal bikin saya nangis)..

Yah, selanjutnya. Ini tentang sosok karakternya. Kurasa sifatnya ada yang mirip dengan saya. Tapi banyak ndaknya. Hahaha ^__^. Yaitu tentang prinsip hidup. Tapi beruntungnya mereka berada di jalur yang mereka minati. Tentang impian. Mereka benar-benar mengejar apa yang mereka inginkan. Sejujurnya itu membuat saya iri. Sangat iriiiiii. Seperti mereka, aku pun ingin hidup sesuai dengan prinsip yang ku anut, dan mengejar impian-impian itu salah satu fokusnya. Yah, tak peduli dengan apalah itu jabatan, uang. Betapa bahagianya mempersembahkan sesuatu hasil kerja keras diri kita sendiri pada orang yang kita cintai. Yah, yang terpenting adalah membahagiakan diri kita, dan orang-orang yang kita cintai di sekitar kita. Kisah cinta dalam kehidupan itu sesederhana itu.

"The same wavelenght". Yah, seperti yang selalu kuutarakan sebelumnya. Bahwa ini adalah tentang kecocokan jiwa. Tak peduli seideal apapun orang di hadapanmu jika jiwanya tidak cocok ya tidak akan ada yang namanya pertautan. Sebaliknya meski banyak kekurangan yang tampak pada diri seseorang namun jika terdapat kesamaan di jiwa, tak ayal bisa jadi dialah potongan hati yang kau cari.

Yang terpenting dari suatu hubungan adalah percaya, saling menghargai, saling mendukung, dan setia.

Tentang gelombang dalam jiwa. Pernahkah kau merasa memiliki "connection" dengan seseorang? Yakni ketika kau merasa seakan mampu merasakan apa yang seseorang rasakan hanya dengan mendengar, atau melihatnya saja. Atau ketika kau berada di negeri antah berantah dengan seseorang yang jauh entah dimana, namun ada sesuatu yang membuatmu merasa terhubung dengannya? Suatu komunikasi yang tersalurkan tanpa kata. Hanya sikap yang berbicara namun hati menyimak dan mengamini. Getaran semacam itu yang pernah kurasakan dalam suatu persahabatan. Ketika diam menjadi penguasa, namun hati justru semakin dekat satu dengan yang lain. Berbicara dalam kesunyian. Saling menyelami pikiran masing-masing. Ah apalah artinya itu. Seperti itulah yang kurasa akan kau dapatkan jika kau telah menemukan sepotong hati yang kau cari.

Tentang Ciel..
Yah, Ciel adalah tipe manusia yang susah sekali bicara. Susah sekali berekspresi melalui suara. Namun ada seseorang yang mampu membaca semuanya melalui mata. Menenangkan dalam diam di kala tangis menyeruak. Menyimak dengan seksama ketika kesal menyelinap di sela wajah. Meresapi kebahagiaan yang terpancar dan menyelami kesenangan masing-masing. Namun seseorang itu hanyalah fiktif belaka.

Seorang Ciel yang tak henti-hentinya menciptakan 'dunia yang ideal' di dalam benaknya. Menciptakan 'teman fantasi' yang memiliki "connection" itu. Huh, padahal ada orang lain dalam kehidupan nyata yang jauh lebih berharga. Seseorang yang dengan kekurangannya menunggu untuk dilengkapi.  Nah, yah. Cara mencari sepotong hati yang masih bersembunyi adalah dengan menunjukkan siapa diri kau yang sebenarnya. Yaitu dengan memperbaiki diri. 

Ciel, INFP ers..

Senin, 29 Oktober 2012

Karena menulis bukanlah bicara

Banyak menulis = Banyak bicara
Entah sejak kapan menulis dan bicara itu menjadi setara. Semenjak tak ada lagi pertimbangan, tak berpikir dua kali dalam menulis membuat 'menulis = bicara'. Padahal dengan menulis sebenarnya kita diberi kesempatan untuk berpikir ulang akan menerbitkan tulisan kita atau tidak. Bertambah dengan makin banyaknya pola interaksi cepat membuat menulis semakin setara dengan bicara. Misal pada SMS. Banyak sekali SMS-SMS tidak berkualitas yang terlahir dari sebuah keisengan atau hal-hal yang tidak perlu.
Banyak kata-kata tak bermutu yang dihasilkan manusia dalam sehari. Dengan semakin banyaknya jejaring sosial yang ada manusia seakan hanya diberi sedikit waktu untuk berpikir dalam 'menulis'. Betapa banyak kata--kata yang 'begitu-begitu saja' tiap menit yang beredar. Kebanyakan malah kata-kata negatif: keluhan, harapan tak jelas, isinya 'galau' semua.
Jadi kita perlu menelaah ulang apa yang dimaksud para sesepuh kita tentang menulis itu. Bahkan status facebook tidak lebih baik dari cuap-cuap omong kosong. Padahal tak perlu lagi bagi kita untuk menggunakan lidah untuk berkata-kata, hanya butuh jari-jari untuk mengetikkan kata. Pola ini menyebabkan keterbukaan yang leluasa. Batasan privasi menjadi lebih tipis.

Jagalah lidahmu = Jagalah jari-jarimu
Pernahkah kalian mendengar "hendaklah ia berkata yang baik atau diam". Hm... seiring kesetaraan antara menulis dan bicara, rasanya hal ini juga perlu diterapkan kepada kehidupan kita. Bisa jadi orang yang pendiam secara lisan menjadi begitu talkative dalam menulis (misalnya saya). Hal ini menimbulkan warning yang cukup perlu diwanti-wanti dalam memulai berbicara. Apalagi orang yang i-net addicted macam saya, seakan hanya ada sepersekian detik waktu yang dibutuhkan untuk mempublish sesuatu (hanya dengan sekali klik maka semua telah ter-share). Walhasil justru semakin banyak kata tak bermutu daripada yang bermanfaat.

Banyak kata = Banyak dosa
Tidak masalah jika tulisan itu kita simpan sendiri, itu sama saja dengan menggerutu atau bicara dalam hati. Namun akan berbeda jika kata-kata itu dibaca tidak sedikit orang. Banyak resiko yang mungkin timbul. Karena kata tersebut mungkin tak luput dari energi negatif yang bisa menyebabkan prasangka juga pemantik dosa, baik bagi kita maupun orang lain.

The Eliquoency of silence
Saya menulis artikel tersebut ketika masih kelas 2 SMA (entah kenapa 2 SMA begitu bermakna bagi saya) dan kebetulan dipublish di majalah sekolah (itu tulisan pertama saya yang dibaca banyak orang :). Namun ternyata menulis itu tidak mudah, kecuali hanya berniat menulis saja. Karena penerapan adalah hal yang penting sebagai ruh dalam tulisan. Yah, saya memilih topik tentang silence tak lain karena diam adalah bahasa paling rumit yang pernah ada. (kapan2 jika sempat saya post-kan artikel saya itu). Yang ingin saya katakan adalah bahwa dalam kehidupan selalu ada fase pemberhentian. Seperti itulah, tak selamanya manusia akan terus bergerak, tak selamanya manusia akan terus bicara. Dengan diam kau bisa menemukan kata-kata indah yang tak bisa kau ungkapkan keindahannya. Sesejuk angin yang berhembus sepoi-sepoi, sehangat matahari musim panas, atau seharum bunga musim semi. Karena diam adalah kata paling fasih yang pernah ada.

Finally...
Jika merujuk tulisan para sesepuh, yang disebut menulis adalah sesuatu yang bermakna, penuh ideologi, dan lebih banyak manfaatnya bagi khalayak. Menulis adalah perenungan yang mendalam dan pemikiran yang berlapis dan memiliki esensi dalam tiap katanya.



“Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” 
“Menulis adalah sebuah keberanian...”
 Kata-kata tersebut adalah quote dari seseorang yang sangat menginspirasi saya, terima kasih bapak Pramoedya Ananta Toer: Saya akan terus menulis :)

Senin, 24 September 2012

Sang Pemindai Langit

Duhai Sang Pemindai Langit, apa benar kau telah menerima pesan dariku? Dan hanya ini yang bisa kusampaikan, lautan perasaan yang tak mampu tertuangkan dalam kata. Dan jika kau benar Sang Pemindai Langit, tentu saja kaulah orangnya, maka pesan ini memang untukmu. Hanya untukmu.

Aku tak pernah tahu sejak kapan pita kuning ini ada. Warna yang menghangatkan. Sehangat senyuman matahari pagi. Dan aku tak pernah tahu sejak kapan langit kita terhubung. Sehingga seluruh dimensi luluh lantak. Hilang. Musnah. Sehingga yang ada hanya langit kita. Langit yang selalu berwarna. Bukan kelabu atau merah. Tapi Biru. Biru yang jernih.

Duhai Sang Pemindai Langit, apa benar itu kau? Dan jika iya, dan tentu saja memang kau, maka hanya kau. Hanya kau yang mampu masuk tanpa mengetuk. Hanya kau yang mampu membuatnya terbang tanpa melayang. Dan hanya kau yang mampu membuatnya nyaman tanpa sentuhan. Apa kau tahu apa yang membuat semua ini bertahan? Karena satu hal, duhai Sang Pemindai Langit. Karena aku percaya pada Harapan.

(Ciel, 20.09.2012 / 12.19)
.:hanya Aku dan Kau:.

Karena...


Karena Pertanyaan tidak membutuhkan Jawaban...
karena Percaya berbeda dengan Ragu, maka 
yang tersisa hanya Satu...
Ketika Diam terkadang menyakitkan, maka 
biarlah Senyumku menyembuhkan
karena ku tak pernah tahu kapan ini dimulai 
maka yang ku tahu Akhir itu tak kan datang
Karena Persahabatan tak mengenal kata Terminasi,
yang ada hanya Satu, yaitu Abadi...

Ciel, 20.09.2012
.:Karena Edelweiss pun membutuhkan Matahari:.

Fukarete

Aku tak pernah ingin berkata "Maaf"
tapi kata itu terus saja mengalir...
Sejujurnya aku tak pernah ingin kita berteman hanya karena ini...
Dan sejujurnya aku tak tahu siapa yang telah berubah
kawaranai monottesa totemo kirai da ne
kedo kirai na nomotte kawatte shimau kara 
Ikatan ini terasa keras dan menyakitkan
Dingin seperti salju di musim dingin, gelap dan jauh dari cahaya
Sampai kapan aku harus percaya?
Karena aku ragu kau pun telah ragu
Jika cahaya itu tak kunjung datang, maka
kuharap angin yang menerbangkannya..

Jauh... menuju tempat yang tak bisa kujangkau lagi

Ciel, 20.09.2012 / 12.36
Blowing with the wind

Jumat, 24 Agustus 2012

Jarak

Ternyata benar...
yang tampak dari langit hanyalah masa lalu...

Matahari yang kau lihat,

adalah matahari dari 8 menit yang lalu...

Dan bintang-bintang yang kulihat,
adalah bintang dari masa ratusan tahun yang lalu...

Mintaka, Alnilam, Alnitak...

Sabuk Orion itu...
Ketika kita melihatnya saat ini sebenarnya kita sedang melihat 3 bintang dari 3 masa yang berbeda...
Mintaka yang kita lihat adalah Mintaka 900 tahun cahaya yang lalu...
Alnilam yang kita lihat adalah Alnilam 1.359 tahun cahaya yang lalu...
dan Alnitak yang kita lihat adalah Alnitak dari 800 tahun cahaya yang lalu...
cahaya yang melewati hitam pekatnya dimensi hampa udara menembus lensa di mata kita...
dalam retina yang seolah mereka hanyalah bintik cahaya yang tak jauh berbeda,
kini...

Padahal seakan-akan langit selalu menjanjikan harapan,

ketika kita menatap ke arahnya..
Padahal yang kita lakukan selama ini hanyalah menengok masa lalu...
Mereka yang sejatinya tak pernah pergi namun melekat erat dalam kehidupan manusia...

Lantas jika aku katakan aku adalah langit,

maka aku hanyalah makhluk dari masa lalu yang tak jelas masa depannya...
Apa yang kita lihat hanya ilusi tentang langit...
Ilusi tentang masa depan yang selalu menunjukkan warna yang berbeda...
Dia hanya menipu kita dengan menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya...

Sama seperti ketika aku melihat Altair, Vega, dan Deneb...

Altair yang berasal dari 17 tahun cahaya yang lalu...
Vega yang berasal dari 26 tahun cahaya yang lalu...
dan Deneb yang dikirim dari 1500 tahun cahaya yang lalu...

Segitiga musim panas itu...

mereka lahir dari zaman yang berbeda...
karena itu kisah persahabatan summer triangle hanyalah ilusi...
Sekali lagi, langit menipumu dengan harapan-harapan palsu...

Mungkin hanya aku yang sebenarnya tidak bisa memahami perasaan langit...

Mungkin memang persahabatan kami hanyalah ilusi...
sebagaimana perasaanku yang sebenarnya tak pernah mencapainya...
sehingga ada ruang kosong diantara aku dan dirinya...
sesuatu yang kusebut 'jarak'...

Rabu, 25 Juli 2012

Ingin Kukatakan 'Aku Percaya'

"Belajar untuk percaya"
Kalian pernah mengatakan itu padaku...
Jika hati ini memang susah untuk terbuka, lantas mudahkah lisan ini berkata...

Sendiri itu...menyesakkan...
Hanya Tuhan yang tahu bagaimana hati ini berbicara...

Mana yang lebih menyakitkan,
tidak pernah memiliki,
atau kehilangan setelah memiliki?

Jika memang tidak seharusnya aku mendapatkan, aku akan menyakiti karena terus mencari.
Jika aku telah kehilangan, lantas hati ini akan terluka karena sibuk mengenang.

"Aku percaya"...
Ingin kukatakan itu padamu
Namun kau telah pergi...

Lantas kepada siapa hati ini menyapa...
karena hati ini tercipta untuk menunggu...
Ya...
bahkan dalam penantian pun, jiwa ini tersakiti...

Sayonara Memories

Maaf, karena tak mampu memahamimu...
Maaf, karena terus mengganggumu...
Berjuta maaf yang ingin kusampaikan padamu...
seakan tidak berarti...

Mungkinkah, jika kita memang tidak harus bersama...
Jika memang tidak pernah terjadi ikatan...
Jika memang tidak pernah bertemu...
Dan semua telah menghilang...
Atau mungkin kau telah lupa...
dan tak akan ingat...

Aku akan pergi...
jauh...
Jika memang ini lebih baik...
Aku akan pergi...
Dan mengatakan selamat tinggal kepada masa lalu...

Terima kasih yang tak terkira...
untukmu...

Langit yang Sama



Kutulis hal ini di bawah langit gelap yang berbintang.
Saat ini ku duduk sendirian di kegelapan, menatap cahaya berkelip yang membingkai angkasa raya.
Semuanya sama. Tidak ada yang berbeda.
Yah, langit ini adalah langit yang sama yang pernah kulihat setahun yang lalu.
Begitu cepatnya waktu seakan hari itu barusaja kemarin.
Jika kau merasa melihat harapan ketika melihat langit, justru saat ini aku merasa melihat kenangan.
Yah, langit menyimpan rahasia akan masa lalu dan masa depan.
Mungkin itulah yang menjadi dasar teori deja vu.
Ah, apalah itu.
Kenangan, oh kenangan.
Kenangan itu memiliki 2 versi dalam kehidupan.
Seperti kenangan pahit dan kenangan manis.
Kenangan juga ada yang bersemayam dalam satu hati
..ada juga yang dimiliki sehati.
Yah, terkadang ada kenangan yang menjadi rahasia bagi memoar kehidupan seseorang,
rahasia yang disimpannya sendiri,
yang mungkin menjadi rahasianya dengan penciptanya sendiri.
Kenangan semacam itu akan selamanya hidup dalam kedalaman ingatan manusia.
Kenangan yang menyimpan rasa tersendiri bagi pemiliknya.
Oh, kenangan.
Kau begitu relatif diabaikan.
Namun juga relatif disimpan.

Ah, dasar manusia.
Kenapa kau mengingat hal yang lalu, jika terkadang itu lebih banyak menyakitkan.
Ah, dasar manusia.
Sementara terdapat kenangan lain yang menjadi rahasia antar manusia.
Kenangan indah, sedih, memalukan, atau membahagiakan.
Kenangan yang dibagi dalam keping-keping garis perak yang saling menghubungkan insan-insan di dunia.
Oh, kenangan.
Bahkan terkadang kau dimiliki banyak orang.
Kenangan yang menjadi rahasia umum.
Seperti sesuatu yang selalu menjadi legenda.
Yang diamini tidak sedikit manusia.

Namun langit diatas tetaplah sama.
Langit yang berputar dalam siklus dunia.
Yang menyimpan kenangan masa lalu maupun masa depan.
Dan aku pun menunggu.
Kapan langitmu akan datang menjemputku.
Dan keduanya pada akhirnya akan bersatu.
Dan jika itu tiba, bersediakah kau menggambar kenangan indah di masa mendatang?
Di langit yang sama.