I want to live my life to the absolute fullest

To open my eyes to be all I can be

To travel roads not taken, to meet faces unknown

To feel the wind, to touch the stars

I promise to discover myself

To stand tall with greatness

To chase down and catch every dream

LIFE IS AN ADVENTURE

Tampilkan postingan dengan label Goresan Pena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Goresan Pena. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 September 2015

Bintang

Aku ingin bertanya kepada langit
Mengapa ia ciptakan malam
Aku ingin bertanya kepada awan
Mengapa ia ciptakan hujan

Aku ingin bertanya kepada hening
Mengapa kau ciptakan sepi
Aku ingin bertanya kepada Mu
Mengapa kau ciptakan aku

Mengapa kau bersinar terang
Dalam kerlipan malamku
Mengapa kau berwarna warni
Dalam pelangi senduku
Mengapa kau menyanyi merdu
Dalam alunan sunyiku
Mengapa kau adalah kau

Bintang kecil yang berkelap kelip
Kau menghias gelapku yang tiada tara
Mengapa kau tersenyum jauh disana
Kau..
Yang ingin ku raih namun tak sampai..
Bintangku..
Takdirku padamu adalah jarak ratusan tahun cahaya..
Akan kusimpan rapat2 cinta..
Pada rindu yang tak terkira..



Ciel, 17 Juli 2015

Sabtu, 05 Juli 2014

Kecuali Hati

Di atas sana ku bisa melihat langit biru yang cerah.
Awan-awan putih yang lembut seperti kapas saling bersentuhan, menyatu, berpadu menciptakan bentuk-bentuk imaji bagi pemujanya.
Lalu burung-burung yang terbang berkelompok membentuk formasi-formasi indah, melaju tanpa ikatan tak mengenal takut akan jatuh.
Sebebas itu aku melihat langit, yang penuh keindahan dan menawarkan jutaan perasaan bagi manusia-manusia bumi.

Disini aku hanya seorang manusia yang tak mampu melakukan banyak hal.
Barangkali memang tak ada manusia yang bisa hidup sendirian.
Terbalut kesepian hanya akan menorehkan luka.
Hidup dalam kegelapan hanya akan membuat hati menjadi keras.
Jiwa-jiwa yang rapuh hanya bisa meneteskan lara dan duka, mencoba menguntai harap dari keputusasaan.

Ketika tangan langit terulur pada makhluk bumi bernama manusia, cahaya memeluknya membuatnya menyadari betapa dunia ini begitu indah.
Jika kau memperhatikan dengan seksama, kupu-kupu yang berterbangan diantara bunga-bunga, wangi angin musim panas, dan kicauan burung di pagi hari.
Hanya melalui taman bernama hati kita bisa bahagia.
Menciptakan taman yang indah tak kan bisa terjadi dengan hanya berdiam diri.
Menyalahkan diri dan mengutuk masa lalu hanya akan membuat dunia menjadi lebih gelap.
Mendung dan badai akan menerkam hati dan mengirisnya.
Taman hati yang indah akan tercipta jika kita sendiri yang menciptakannya.
Menaburkan benih-benih cinta, menyiraminya dengan kasih dan sayang, menyinarinya dengan kehangatan persahabatan.
Menebarkan harap yang membuat taman hati penuh bunga berwarna-warni yang mekar dengan indah.

Tak ada tempat lain kecuali di hati.

Taman hati yang indah akan tercipta
jika kita sendiri yang menciptakannya
1 Mei 2014

Dalam Bayangan

Terima kasih telah hadir dalam ruang sendiriku
Membantuku menghapus air mata,
membantuku mendengar suara hati,
membantuku menyentuh kehampaan,
membasuh lirih, meredakan kegelisahan, memeluk kesepian, menyemayamkan kerinduan

Seperti itulah dia
Dalam kegelapan dunia tanpa mentari dan purnama
Kau menjadi kepingan harapan
Tanpa bisa menyentuhnya
Membersamai dalam bayangan

Pada akhirnya semua masih berarti hampa
Jika kau tak pernah datang mungkin aku akan tetap lupa
Jika kau bukan cahaya, lalu kau apa
Jika kau bukan hujan, lalu kau apa
Kau adalah keharuman yang hanya bisa dicium oleh kalbu
Terima kasih atas terangmu
juga kau yang membasuh jiwa yang telah kering ini

Rabu, 19 Maret 2014

Bayang Semu

Aku telah kehilangan matahari, rembulan, dan segala keindahan langit.
Dan sayap kehidupan itu berguguran.
Patah satu demi satu.
Kau berdo'a agar ku dapat penggantinya.
Aku yang telah buta tak bisa ku temukan.
Adakah dia jauh atau di depan mata.
Hai semesta! Bangunkan aku dari kemalangan berlarut.
Jika tak kau ajarkan aku arti bahagia apa bisa manusia bahagia.
Apalagi yang harus ku raih.
Kemana lagi ku harus menuju.
Pertanyaan yang tak pernah terputus.
Manusia sepertiku.
Hanya terkapar dalam bayang semu.

Rapuh

Terkadang kudapati hanya perasaanku yang bersuara.
Hatiku diam. Pikiran dan mulut apalagi.
Siapa lagi yang bisa mendengar rintihannya? Kecuali diri pribadi.

Aku selalu mengharapkan ada yang datang.
Lantas membawaku pergi, dari dunia yang tak kuharapkan.
Ku kan bilang kau penyelamat, namun barangkali wujudmu hanya ada pada angan, fiktif belaka.
Tak ada yang mampu mengentasku.
Aku sendiri pun tidak.
Jika bukan karena janji tak tertulis.
Sudah terlalu sesak rasa di dada.
Tak kuasa lagi bahkan untuk mengadu.

Aku memang sendiri.
Jiwa ini sudah pernah terluka oleh nasib.
Begitu rapuh dan mudah patah.
Siapa pula yang menguatkan.
Semua terjalani dengan terpaksa.

Gelap.
Dalam bayangan, cahaya itu terlalu menyilaukan.
Tak ada yang jelas.
Mata ini telah rabun.
Tapi ku harap ku masih dapat melihatnya barang setitik.

Kebebasan

Menjadi manusia merdeka.
Barangkali itulah yang kuimpikan sejak dulu.
Merdeka!
Satu kata sakral yang tak hanya berarti kata.
Sejak kecil aku paham bahwa kata ini istimewa.

Menjadi manusia bebas.
Sebebas burung yang terbang di angkasa.
Mengikuti kehendak jiwa tanpa terikat oleh bumi.
Meninggi menyentuh batas-batas atmosfer.
Menerjang angin, panas, hujan.
Hanya demi satu kata: bebas.

Aku bermimpi menjadi diriku sendiri.
Memenuhi takdir sekena kaki tangan pergi.
Menuruti benak hati ke arah panggilan jiwa tertuju.
Tapi itu hanya mimpi yang ada ketika kanak-kanak dulu.

Sedari dulu ku sudah tahu bahwa manusia penuh ikatan.
Seperti budak pada majikannya, anak pada ibu-bapaknya.
Barangkali harap terlalu tinggi.
Berusaha mengurai ikatan pun tak mampu.
Hanya makin menjerat saja.

Apa itu dunia? Dunia yang kalian bilang indah. Itu bukan duniaku.
Dunia yang kukata damai ada di tempat di ujung bingkai dunia.
Apa salah mengundi nasib ikuti seruan hati.
Barangkali sesederhana itu arti kata bebas.
Mengisi hidup dengan menentukan takdir sendiri.
Memikul resikonya. Asal dari lubuk hati.
Mendamai dengan dunia meski semesta memaki.

Tak bisa tidak, bagi batin yang tersiksa, merdeka hanya utopia.
Tak ingin kurenggut ini pada penerusku kelak.
Ku ingin mereka membentangkan sayapnya lepas-lepas.
Jika memang ini yang terjadi pada diriku, biarlah!
Namun kau harus berjanji agar menjadi dirimu sendiri.
Raga, jiwa, pikiran dan hati.
Hidup dalam kebebasan!

-Kepada Altair Hurriyah, yang mungkin belum ada-
"Bebaslah sebebas elang di angkasa"

Sabtu, 15 Maret 2014

Pita Merah

Pita Merah adalah suatu janji tak tertulis
bahwa kau akan datang padaku
kenyataan yang tersamarkan
bahwa aku tak berdiri sendiri
Terikat di suatu dimensi Sang Pemegang Janji
yang membawa ujung lain si Pita Merah
Barangkali dia mencari
Bisa juga tak sengaja mendekat
Kadang kala sungguh terasa bosan
Termenung dalam kata penantian
Dia yang dari antah berantah
Pun tak mengenal siapa lawannya
Pita Merah menyatukan
Pita Merah mempertemukan
Hingga suatu hari nanti Pita Merah itu terpilin
dan bersatu membentuk ikatan

Sabtu, 08 Maret 2014

Harapan

(1)
Kaleidoskop itu, apa masih penting
Semua hal yang telah terjadi. Kesenangan. Kesedihan.
Yang tersisa dari kenangan hanya rasa.
Apa itu indah atau tidak.

Menjadi bahagia adalah tujuan setiap orang.
Apa yang membuatmu bahagia?

Yang bisa kulakukan adalah mencoba menemukannya.
Keping jawaban yang hilang.
Barangkali jawabannya sudah jelas di depan mata.
Tapi aku tak bisa melihatnya.
Selalu mencari jawaban lain, pembenar keinginan.
Harapan.

(2)
Apa itu harapan? Harapan itu apa?
Yang membuat manusia terus berdiri lagi dan lagi.
Alasan seseorang hidup.

Aku tak melihat harapan. Mengapa aku masih disini.

Kau bilang aku bisa membuatnya mengalir.
Menyelaras dengan waktu. Dalam susunan kronologi masa depan.

Aku hanya tak boleh banyak berpikir.
Itu katamu.

"Mengagumkan saja belum cukup untuk pantas dikagumi". 
-Ciel

Lembaran Hitam

Orang takut mati karena takut dilupakan.
Hanya dengan kematian manusia terpisah dari kehidupan.
Lantas siapa yang mengenang? Apa yang terkenang?
Seseorang akan terhapus begitu saja, hilang dari sejarah.
Dan orang yang ditinggalkan memang sengaja ingin melupakan, termasuk  meninggalkan masa lalunya. Alih-alih menatap maju.
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." 
-- Pramoedya Ananta Toer
 Apalah arti manusia dengan hanya segelintir tahun masa hidupnya.
Lantas setelah pergi dia akan terlupa, tak terkenang, hilang, lantas lenyap bersama waktu.
Aku tahu kau tak kan selalu ada..
Seperti hujan kubutuh tanda agar kau datang..
Seperti mendung dan petir yang menggelegar..
Memilukan namun mesti kau dengar..
Kukata "Kau tak kan mengerti"
Dan memang tidak akan terkecuali ada pengertian
Jiwa bak tanah gersang memang butuh perhatian
Lantas kau basuh hati ini dengan air yang menyegarkan
Jika memang hilang suatu hari barangkali kau temukan
"Bersamamu aku menjadi tenang"

Se Titik Kecil

Kau memiliki teman-teman yang baik, yang berpemahaman luas dimana kau bisa bertukar pikiran dan memikirkan hal yang lebih besar.
Aku tak tahu, mungkin Tuhan memang membuatku tak mudah tuk mencapaimu.
Mungkin ini memang perihelion kita..
Kurasa kau bergerak begitu cepat..
Aku ingin menggapai tanganmu, namun aku tak lagi mampu.
Duniamu yang begitu cerah menyilaukanku.
Barangkali akulah yang telah keluar dari orbit.

Apa benar memang tidak ada jalan keluar setelah terjebak dalam lubang hitam?
Seperti mimpi, semua menjadi beku dalam sekejab mata..
Hanya api kecil ini yang kupunya, yang kutemukan bersamamu dalam jurang yang tak berujung..
Menjaganya bersama agar tetap menyala..
Dalam selimut khayalan aku berharap masih bisa menemukan kehangatan.
Dan jika aku adalah angin, dan jika aku adalah burung, dan jika aku adalah matahari..
Namun aku hanyalah manusia

Ciel, November 2013

Kamis, 06 Februari 2014

Balon Impian

Balon impian ini..
Ia begitu indah..
Memantulkan semua warna yang kau inginkan.
Sampai kapan aku memegang talinya?
Menjaganya agar tetap utuh dan mengangkasa.

Balon impian ini..
Yang memantulkan perasaan manusia.
Aku selalu takut menjaganya.
Aku takut jika tiba-tiba ia pecah.
Hancur berkeping-keping.

Jika saja kau mau membantu menjaganya.
Memegang tali ini bersama-sama.
Mungkin ikatan itu akan lebih kuat.
Dan bertahan sedikit lama.

Mungkinkah impian yang kau cari ada di dalamnya.
Impian yang telah lama hilang.
Andai saja kau mau mencari serpihannya.
Mungkin..
Dan mungkin jika bersama akan mudah menemukannya.

Warna apakah yang kau inginkan?
Apakah warna kebahagiaan itu benar-benar ada.
Jika memang ini tujuan hidup setiap orang.
Jadi bahagia itu apa?
Kisah bahagia tidak pernah berjalan sendirian
Karena jika sendirian tak lagi indah

Balon impian ini..
Aku tak bisa membayangkannya..
Disaat balon ini pecah..
Jika saat itu datang suatu hari nanti.

Balon impian ini..
Jika saat itu benar-benar tiba..
Akankah aku menjadi seperti anak-anak
Yang menangis karena kehilangan mainannya.

Atau aku tersenyum memegang talinya yang melunglai.
Dan menertawakan semuanya.
Jika saja kau ada di sampingku saat itu.

Manusia mendefinisikan warna kebahagiaannya masing-masing.
Kisah bahagia tak akan pernah berjalan sendirian.
Karena kebahagiaan membutuhkan lebih dari satu warna.

Agar ia terlahir indah.


-December 1st 2013-

Kamis, 24 Oktober 2013

Shite kudasai!!!

Ketika aku memanggilmu, kau bahkan sudah tak menoleh padaku.
Kini aku sadar bahwa kau telah berdiri jauh di depanku.
Bahkan di saat tersulitku kau tak ada disini.
Itu bukan salahmu. Sama sekali bukan.

Tapi aku tak bisa menghadapi semua ini sendirian. Tidak bisa.
Aku tak bisa berpikir bahwa aku mampu membahagiakan orang lain di saat  aku tak lagi mampu membahagiakan diriku sendiri.
Aku tak lagi pantas mencintai orang lain di saat aku tak mampu mencintai diriku sendiri.
Karena itu aku menjadi makhluk yang terabaikan.
Aku berusaha menyuarakan isi hatiku tapi tak ada seorangpun yang mendengarkan.
Aku merasa tak mungkin bisa lebih buruk dari ini namun semuanya semakin bertambah buruk.

Ketika kau mengatakan banyak kata semangat, semua itu terasa tak berarti lagi.
Aku tak bisa berdiri hanya karena kata semangat.

Aku ingin kau mempercayaiku lebih dari apapun.
Tapi aku hanya menjadi manusia yang tak bisa diandalkan.
Merasa tak berguna.
Dan tak ada bedanya aku ada atau tidak.

Aku bukan siapa-siapa.
Aku tak bisa melakukan apa-apa.
Aku tak punya siapapun lagi.
Aku tak punya apapun lagi.

Aku merasa aku bukan lagi manusia bebas.
Aku tak pantas lagi menjadi Ciel juga Hurriyah.
Semuanya telah mati.
Aku tak sanggup hidup lagi seperti ini.
Aku membenci diriku, membenci hidupku, membenci jalan yang kuambil.
Aku membenci segalanya.

Apakah aku akan berakhir dalam penyesalan yang teramat dalam?
Apakah seburuk itu hidupku ini?
Aku hanya bisa mengucap satu kata yang tak tahu kutujukan pada siapa.
“Tolong!”

Save me, anyone!

Jumat, 04 Oktober 2013

Awan yang Mati

aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku 2 tahun terakhir ini..
aku merasa kehilangan segalanya perlahan-lahan..
semuanya pergi bahkan sebelum aku merasa memilikinya..

perasaan diabaikan, tidak dilibatkan, tidak diperhatikan, tidak dimengerti..
seperti awan yang ditinggalkan oleh gerombolannya..
terombang ambing sendirian di langit yang tak bertepi..

selama 2 tahun terakhir ini awan itu lebih sering berwarna gelap daripada terang..
sesak, berat, membawa hal yang berat..
pada akhirnya seperti makhluk kebanyakan, sang awan yang tak kuasa dengan bebannya menumpahkannya dalam hujan..
hujan yang tak ada yang memperhatikannya, kecuali dirinya dan langit..

awan telah berusaha bercerita dengan mengubah bentuknya..
namun awan tetaplah awan, yang sulit dimengerti..

pada awalnya ia senang ditemani burung-burung yang melintas..
ia juga bergantung pada matahari yang bisa mengurangi mendungnya..
juga pada rembulan yang bisa mengurangi kegelapannya..
namun mereka tak pernah benar-benar ada untuk dirinya..
mereka pergi..

aku tak punya siapa-siapa..
mereka semua pergi..
satu per satu..

di dunia yang asing ini, aku merasa sendiri..
entah kenapa aku masih disini hari ini..
mungkin sebenarnya aku telah lama mati..

pada akhirnya awan itu akan terkikis oleh angin, oleh cahaya..
dan tak ada yang mengingatnya..

semua beranggapan jika awan itu dulunya memang tak pernah ada..
ya memang begitulah adanya,
bahkan adanya pun bukanlah hal yang istimewa..
dia tidak memiliki arti bagi dunia..
bagi siapapun..
dia hanya awan yang kemudian menghilang tanpa ada yang menyadari keberadaannya..

ini bukan negeri dongeng..
seseorang bilang bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang akan membuatmu merasa istimewa..
tapi itu semua hanya ilusi..
aku bukan seorang puteri..
dan pangeran itu tak akan pernah datang..

lagipula siapa yang akan menyukai puteri buruk rupa yang telah lama mati..
mati bersama impiannya, bersama tujuannya, bersama keberaniannya..
ia mati bersama rasa percayanya..
tidak semua orang memiliki ending yang indah..
jika aku adalah awan aku berada di titik limitku,
aku takut berharap..
aku berhenti berharap..

aku telah kehilangan segalanya..
kehilangan sayap untuk terbang,
dan sangkar ini adalah penjara, bukan "rumah"..
sudah lama aku lupa apa itu rumah..
aku juga lupa dimana tujuanku..

aku hanya ikan yang telah lama mati,
tak sanggup lagi melawan arus yang ada..
terbawa aliran..
entah seperti apa semua ini akan berakhir..

Jumat, 07 Juni 2013


Nitsuga Ciel Hurriyah
29 Mei melalui seluler
Ada dunia yang bernama canggung, yang berisi ruang dan jarak.
Dunia itu tak perlu kau cari berkilometer, karena dia ada 1 milimeter di dekatmu. Persis.
Bagi sebagian manusia bisa saja tidak menyadarinya dan menganggapnya ilusi.
Tapi bagi sebagian manusia bisa jadi dunia itu tumbuh begitu besar.

Ada beberapa manusia yang tumbuh dengan pemahaman di dunia yang kecil, meski dunia itu hanya 1 milimeter. Namun di dunia yang kecil itu ada yang menjadi gua berlorong yang menjalar rumit, ada pula yang besar membentang sesederhana air yang mengalir.

Karena manusia tidak akan pernah sama.

Pouvez-vous m'entendre?

Mungkin karena sejak kecil aku merasa tidak ada yang bisa mendengarku.
Aku selalu menyimpan semuanya sendiri disini.
Setiap pulang sekolah ku bersepeda dan berhenti di atas jembatan dan menatap sungai yang mengalir.
Kutatap kertas di tanganku yang berisi keinginanku, kata-kata yang ingin didengar.
Kulemparkan jauh ke sungai membiarkannya mengalir dan berharap apapun itu yang kusebut 'penguasa sungai' bisa mendengarnya,
dan meskipun tidak ada yang mendengarnya setidaknya aku merasa lega telah menuliskannya.
Aku tak pernah benar-benar berharap kata-kata itu akan tersampaikan karena aku sudah terbiasa diabaikan.
Pada akhirnya aku hanya mengatakan apa yang membuat mereka senang.
Aku mulai mengabaikan perasaanku sendiri, membunuhnya perlahan
sehingga aku mulai kehilangan apa itu 'emosi'.
Aku berubah menjadi orang yang berusaha terlihat kuat, mencoba menyimpan air mata sendirian.
Aku menciptakan duniaku sendiri yang mereka tak tahu.
Pada akhirnya aku menemukan diriku yang berlari dari kenyataan.
Menjadikan duniaku terselubungi oleh warna yang tampak lebih cerah.
Selamanya mereka mungkin tak mampu melihatnya, kegelapan dalam hatiku.
Aku takut dalam kesendirian dan tak ada yang tahu.
Aku berlari, aku tertatih, aku menjerit dalam diam.
Aku terluka parah sedemikian rupa,
namun sekali lagi tak ada yang tahu.
Tak ada yang bisa mendengar rintihan di langit duniaku.
Tanpa kusadari aku telah tenggelam dalam kolam air mata.
Aku selalu percaya akan ada seseorang yang akan menyalakan cahayanya untuk menerangi gelapnya hatiku.
'Karena ini adalah tentang kecocokan jiwa'.
Can you find me? Dear, my best friend.

Espérer

Dunia ini berjalan dalam keteraturan
tertahan dalam kuasa ruang dan masa
terikat dalam ketentuan
membungkus segala rasa dan asa

Seperti pagi yang dinanti
manusia selalu menunggu datangnya cahaya
Hidup dalam remah-remah ketidakpastian
namun terus berharap mentari akan segera tiba,
embun beruntaian, langit membiru, dan burung berkicau

Namun waktu tak pernah berjodoh dalam ruang yang sama
Dalam pagi tidak ada senja
seperti siang dan malam yang berjalan beriringan
Mereka tak mungkin bersua
Tapi keberadaannya adalah keniscayaan

Dunia yang terus bergerak
melingkupi seluruh alam
Jika kau percaya maka mereka akan menyertaimu
Serapuh hati manusia, setiap sentuhan akan membuatnya bicara

Jika langit tak lagi biru
Jika matahari tak lagi bersinar
Jika manusia terus meragu
Hati yang buram, yang sedih, yang ingin berlari

Kamis, 06 Juni 2013

Just Silence Story (Not Adam and Eve)

Apa kau tahu arti "sepi"?
Itu ketika kau bahagia namun tak ada yang ikut tersenyum bersamamu,
dan ketika kau ingin menyampaikan perasaanmu namun kau malah bersikap sebaliknya.
Tidak ada yang mengerti.
Orang yang berusaha memahamimu itu tak kunjung datang.
Namun kau tetap saja pada sikapmu yang kelu dan penuh kepuraan.
Ah,
memang menyedihkan tak bisa tertawa ketika ingin tertawa,
tak bisa menangis ketika ingin menangis,
tak bisa mengatakan apa yang ingin dikatakan, sehingga justru tersampaikan dengan maksud yang berbeda.
Oh, Tuhan..
Jika hanya ada satu permintaan saja yang akan bisa terpenuhi di muka bumi ini, seseorang hanya akan meminta "teman",
bukan bayangan maupun khayalan,
teman yang nyata, yang dengannya
seseorang bisa menangis di depannya,
tersenyum di hadapannya,
bisa menjadi diri yang sesungguhnya,
dengan perasaan yang sejujurnya.
Tak lebih, tak kurang.
Seseorang yang bisa membawanya keluar dari kotak yang ia tutup rapat-rapat.

Hanya sebuah catatan

Aku hanya terlambat menyadari,
sedalam apapun rasa benci ini mengakar,
setinggi apapun rasa ini tumbuh,
hal itu tak akan mengubah apapun

-Ciel-

Senin, 27 Mei 2013

Dunia dibalik Mata


banyak hal yang tidak bisa kalian lihat hanya dengan mata.
karena selalu ada mata lain yang jauh lebih peka, hanya jika kau benar-benar merasakannya.

ada dunia yang jauh lebih luas, dunia dibalik mata.
kau bisa melihat kupu-kupu terbang atau bunga-bunga bermekaran.
atau tetesan lembut rinai hujan yang berubah menjadi senandung merdu alam.

ada dunia yang jauh lebih indah, dunia dibalik mata.
bisa membersamaimu makhluk yang kau sayang.
tertepiskan dimensi namun tetap terbayur selaksa salju yang menyejukkan.
atau pelukan yang menghangatkan.

namun itu hanya dunia dibalik mata, yang tak bisa kau lihat, tak bisa kau dengar, tak bisa kau raba.
karena ia, dunia dibalik mata