Aku tak tahu sejak kapan aku menyukai buku. Terlebih lagi cerita-cerita dan dongeng. Mungkin cerita bergambar yang kubaca tak terhitung sejak pertama kali aku bisa membaca. Ah, iya. Aku selalu ingat ketika ibuku dengan telaten mengajariku membaca huruf dari A sampai Z. Lalu dengan bangganya aku membacakan di depannya bagaimana ketika aku berhasil membaca huruf, mengeja kata, dan menulis huruf latin. Aku membaca apa saja. Membaca headline koran. Membaca papan reklame. Membaca papan toko. Membaca nama yang tertera di bus. Dan membaca apapun.
Semua buku menarik yang dibawa kakak kubaca habis. Aku bahkan mulai suka ikut menonton film asing dengan membaca terjemahan kecil di bawah layar. Lalu mulai berkenalan dengan komik. Komik pertama yang kubaca adalah Doraemon. Lalu aku mulai membaca cerita. Aku menyukai khayalan. Aku sungguh menyukainya. Hingga aku menemukannya suatu hari. Mungkin sebenarnya aku sudah tahu cerita-cerita dari negeri dongeng itu. Atau bisa dibilang aku menyukai semua cerita. Namun aku tertarik dengan suatu buku ketika itu. Aku menemukannya dalam ‘kunjungan rutin setiap hari’ku ke rumah teman sekolahku. Diantara jajaran buku bergambar dari negeri dongeng. Untuk pertama kalinya itulah aku jatuh hati. Ya, aku jatuh hati pada dongeng tentang Peter Pan.
Peter Pan terbilang bukan cerita biasa bagiku. Kali ini aku tidak melihat ada puteri dan pangeran. Tidak melihat adanya ibu tiri jahat. Tidak melihat adanya peri baik ataupun kisah yang diakhiri dengan ‘mereka berdua hidup bahagia selama-lamanya’. Tapi aku melihat Peter Pan, yang suatu malam mengetuk kamar Wendy, dan membawanya terbang bersama bubuk emasnya, dengan memikirkan pikiran-pikiran bahagia. Lalu terbang melalui jendela menuju Neverland.
Mungkin tidak ada yang tahu, betapa setiap malam dulu aku membayangkan akan ada anak lelaki kecil berbaju hijau yang menjemputku. Aku selalu tertarik dengan Neverland yang masih menjadi kosa kata menarik di otakku yang tak pernah berhenti berputar selama bertahun-tahun kemudian. Lantas, anak itu mengajak terbang. Ya, terbang. Aku bahkan suka dengan ide bahwa kita tak akan pernah berubah menjadi dewasa seperti Peter Pan.
Aku yang hidup dalam duniaku sendiri. Bahkan mungkin hingga kini. Aku senang hidup dalam khayalanku. Aku hanya menunggu. Suatu hari nanti akan ada seseorang yang menjemputku seperti Peter Pan menjemput Wendy. Lalu membangun Neverland kita bersama-sama dan melakukan petualangan-petualangan baru yang luar biasa bersama-sama.